Suatu Senja di Tanah Senja
“Cepat pergi berbaris!”
Saat berdiri menunggu tahanan yang lain tiba lagi-lagi Mardian menghibur dirinya dengan mengamati pohon mati. Sebatang pohon sagu. Pohon mati bukan pertanda baik, pikir Mardian. Ada sebuah rawa-rawa tak jauh dari pohon mati itu. Airnya yang tak bergerak membentang bagai cermin hitam, hampir sejajar dengan pematang sempit yang terbentuk oleh jalan setapak sebagai bingkainya. Pepohonan di sini terlihat kerdil, batangnya amblas di bawah genangan lumpur. Pada pohon lain, yang sedikit lebih besar, akar dangkalnya dilapisi lumut gambut berwarna hijau gelap dan tumbuh merambat hampir disekujur akar. Mardian mengedarkan pandangannya, mengamati pohon-pohon lain, tanah, langit
Hot Chapters