Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Warung Kopi Dunia Bawah

Warung Kopi Dunia Bawah

Dimas membuka laci terlarang—berisi biji kopi paling emosional yang pernah mereka simpan: Rasa Cinta yang Tak Pernah Diucapkan Rasa Penyesalan Pertama Rasa Tertawa Saat Sendiri Rasa Ditolak Tapi Masih Sayang Toyo mulai menyeduh campuran ‘Rasa Gugup Pertama Kali Pegang Tangan’. Randi meracik ‘Kopi Patah Hati Tapi Masih Sayang’. Dimas menyeduh sendiri ‘Espresso Perpisahan yang Tidak Sempat’. ---
101.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 29 kali sebagai puisi kopi dan rindu
Baca
+Pustaka
Istri Yang Menanti Sentuhanmu

Istri Yang Menanti Sentuhanmu

Biasanya orang suka bau wangi tapi aku malah suka bau yang ga enak. Seharian aku terus mencium bau Mas Raka, bahkan ketika menjelang sore aku sangat merindukan suamiku itu. Kuambil ponsel lalu aku melakukan panggilan video. "Mas kapan pulang." Melihat wajahnya aku pun menangis. "Sayang kamu kenapa menangis?" Mas Raka terlihat khawatir. "Aku tuh kangen sama kamu Mas, udah nggak tahan."
1031.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 925 kali sebagai puisi kopi dan rindu
Baca
+Pustaka
Terjerat Hasrat Liar Mantan Selingkuhan

Terjerat Hasrat Liar Mantan Selingkuhan

Kadang, rasa rindu itu muncul begitu saja, menyusup tanpa permisi… rindu pada tatapan tajam Hastan, pada suara rendahnya yang menggetarkan, bahkan pada cara pria itu memanggilnya kitten dengan nada setengah menggoda, setengah memerintah Bukan rindu yang menggebu, melainkan rindu yang samar, seperti aroma kopi yang masih tertinggal di udara setelah cangkirnya kosong. Siang itu, di café dekat kantornya, Meira duduk bersama Aira. Mereka memilih meja di dekat jendela besar yang menghadap ke jalan. Pelayan baru saja meletakkan sepiring pasta creamy di hadapan Aira dan segelas jus jeruk segar di hadapan Meira.
103.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 78 kali sebagai puisi kopi dan rindu
Baca
+Pustaka
Rintik Hujan yang Tak Pernah Pulang

Rintik Hujan yang Tak Pernah Pulang

"Semua itu nggak akan pernah bisa kamu berikan." Rangga terhuyung mundur beberapa langkah, seolah-olah seluruh kekuatannya baru saja direnggut paksa dari tubuhnya. Binar cahaya di matanya perlahan-lahan meredup, lalu padam. "Lintang," gumamnya lirih. "Hubungan kita selama bertahun-tahun ini, apa kamu benar-benar nggak merindukannya sedikit pun?"
2.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 71 kali sebagai puisi kopi dan rindu
Baca
+Pustaka
Ibu Terluka, Ibu Juga yang Menjaga

Ibu Terluka, Ibu Juga yang Menjaga

Entah apa pekerjaannya, kata ibu panti dia orang baik dan dermawan yang sering membantu di kota ini. Seperti yang dikatakan Bos Wira, aku menjalani hari dengan bersemangat. Meskipun di setiap saat berusaha mengingat semuanya. Ada satu yang sudah aku ingat, aku menyukai kopi hitam tanpa gula. Ini saat aku menemani Bos Wira berbincang. Dia menyodorkan kopinya saat aku tak sadar menelan ludah. Namun ketika menghidu aroma ini, kenapa aku merasakan kesedihan yang sangat? Ada kerinduan sekaligus kesakitan yang menyesakkan dada.
102.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 84 kali sebagai puisi kopi dan rindu
Baca
+Pustaka
Rindukan Dirimu

Rindukan Dirimu

Ucap Rio "Kakak setuju dengan kamu Rio" Puji kak Sasa "Yaudah kita mulai sekarang latihannya ya" Lanjut kak Sasa. (Rindukan Dirimu) Berjanjilah wahai sahabatku Bila kau tinggalkan aku Tetaplah tersenyum Meski hati sedih dan menangis Kuingin kau tetap tabah menghadapinya Bila kau harus pergi
101.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 67 kali sebagai puisi kopi dan rindu
Baca
+Pustaka
Kenangan Rindu

Kenangan Rindu

“Kamu gak ikutan ngopi?” “Sudah barusan, Pak. Takut gak bisa tidur kalau kebanyakan minum kopi.” “Hahaha, bisa aja kamu.” “Bapak kenapa toh? Sendirian aja di sini.” Dedi menarik nafas panjang setelah mendengar pertanyaan dari Slamet. Raut mukanya pun juga berubah seketika. “Asih,” satu nama itu yang keluar dari mulut Dedi. Slamet juga langsung merubah ekspresi mukanya begitu mendengar nama tersebut.
104.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 125 kali sebagai puisi kopi dan rindu
Baca
+Pustaka
Kopi Panas Untuk Si Jalang

Kopi Panas Untuk Si Jalang

“Iya, Nona.” “Bisakah aku memesan kopi kental, namun tak manis ataupun tak pahit.” “Dan …”Nona itu memerhatikan Latisya dari ujung kepala sampai kaki. Tatapannya tidak begitu sinis, tapi cukup ramah. Lalu melanjutkan ucapannya terhadap Latisya.
1.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 51 kali sebagai puisi kopi dan rindu
Baca
+Pustaka
Pesan Rindu Dari Ma'had

Pesan Rindu Dari Ma'had

Kafa meletakkan cangkirnya lalu menyandarkan punggungnya, memperhatikan sang cucu. "gula pasir yang membuat kopi ini manis tapi disebutnya kopi manis, bukan kopi gula, giliran penyakit baru dibilang penyakit gula. Dari situ Kek, Alfa belajar bahwa kebaikan tidak perlu disebut, tapi untuk dirasakan. Dari situ juga Alfa menemukan kebahagiaan."
9.823.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 728 kali sebagai puisi kopi dan rindu
Baca
+Pustaka
DUSTA SEORANG SUAMI

DUSTA SEORANG SUAMI

Ataupun beberapa resep makanan yang disimpan setelah didapatkan dari akun tertentu. Mata Hanun berhenti saat melihat postingan Rindu sekitar dua bulan yang lalu. Dua cangkir minuman ada di atas meja. Bukan minuman yang sama. Satu cokelat dan satunya lagi kopi susu. Sepertinya saat itu Rindu sedang bersama seseorang. Hanun menebak jika sosok teman Rindu saat itu merupakan seorang laki-laki karena Hanun tahu jika Rindu merupakan seorang penikmat minuman berperisa cokelat.
1056.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.3K kali sebagai puisi kopi dan rindu
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status