Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Saat Cinta Menyapa Lagi

Saat Cinta Menyapa Lagi

Ia menyebut dirinya 'The Monotone'. "Kenapa kalian mengganggu ketenangan ini?" suara Monotone terdengar datar dan menjemukan. "Imajinasi adalah kekacauan. Imajinasi adalah penderitaan. Di sini, semua orang aman karena tidak ada yang berharap." "Keamanan tanpa harapan adalah penjara!" teriak Nara. Ia terbang mendekati Monotone. "Kau tidak melindungi mereka, kau mematikan mereka secara perlahan!"
910 viewsOngoingAdded to Library 26 Times as puisi monolog
Read
+Library
KEMBALINYA DEWA NERAKA: Hutang Darah Empat Klan

KEMBALINYA DEWA NERAKA: Hutang Darah Empat Klan

"Siapa yang tidak tahu tentang gaya reguler? Nomor satu dalam gaya reguler. Kamu pikir kamu siapa? Kamu bahkan tidak punya hak untuk mengikutinya!!" Lu Xiao terus mengabaikannya dan hanya mengambil kuasnya. *"Pasir padang gurun seputih salju, bulan di Gunung Swallow seperti kail.* *Ia memiliki otak emas. Segeralah melangkah di bawah musim gugur yang jernih."* Itu adalah puisi *Ma Shi* karya penyair Li He. Hanya dua baris, namun mengandung rasa kesunyian padang gurun yang mendalam.
1010.3K viewsOngoingAdded to Library 268 Times as puisi monolog
Read
+Library
Kesendirian

Kesendirian

“See you too.” Aku chat Ribka untuk menanyakan apakah dia bisa diajak jalan, ternyata dia sibuk hari ini. Enaknya ngapain ya di kost seharian? Aku bingung mau melakukan aktifitas pagi ini. Memasak sudah, cuci pakaian sudah, dan membereskan kost juga sudah. Aku mau keluar untuk jalan-jalan sebentar saja juga malas karena sendiri meluluh. Entah kapan sampai begini, ternyata hidup sendiri enggak enak dan serba sendiri mau kemana-mana. Ya, begitulah dulu, aku pasang radio saja.Kemudian aku pasang radio yang kencang karena sudah lama aku tidak mendengar radio. Aku hanya terdiam, termenung, sambil menikmati alunan musik yang aku dengarkan, alunan musiknya membuat aku terhibur dan seketika itu, aku
102.3K viewsOngoingAdded to Library 78 Times as puisi monolog
Read
+Library
Takdir Yang Membawamu

Takdir Yang Membawamu

Aku pun hanya bisa mendengkus pelan. "Mau apa lagi dia sekarang," batinku kesal. "Apa kamu pikir, hanya kamu saja yang bisa begitu?" Aku kembali bermonolog. Aku hanya duduk di ranjang dan mendiamkannya begitu saja tanpa ingin membukakan pintu. "Tok tok tok" namun sesaat kemudian, ketika pintu itu terdengar lagi.
106.3K viewsCompletedAdded to Library 169 Times as puisi monolog
Read
+Library
BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR

BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR

Kalimat yang kutulis ringkas, padat, dan menusuk: Aku adalah puisi yang hanya bisa dibaca, Bukan untuk disentuh jari-jari dunia. Namaku: Harga Diri. Tempatku: Keheningan yang sunyi. Di sinilah aku, tak bertamu, tak menemui. "Ck.. ck.. Aku kira puisi dahsyat apa, ternyata cuma begitu? Biasa saja," cibir Bonaga sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tampak cemas, takut kalau-kalau puisi sesingkat itu akan ditolak mentah-mentah dan membuat kami jadi bahan tertawaan seisi ruangan.
101.2K viewsOngoingAdded to Library 25 Times as puisi monolog
Read
+Library
Can't I Be Free?

Can't I Be Free?

Masih ingat dengan koridor itu Tempat itu menjadi saksi Kalian menertawakanku, aku tetap membisu diiringi tangisku Apa salahku? Apa pernah aku menggores luka? Apa kau suka melihatku tenggelam dalam lara? Cukup! Aku ini bukan hewan, aku juga sama makhluk Tuhan seperti kalian Kehidupan di masa depan adalah misteri. Entah apa yang akan didapatkan kesenangan, kebahagiaan, atau bahkan kesedihan. Yang jelas pasti yang diharapkan adalah bagaimana kita bisa menjadi seseorang yang bukan lagi orang sedih atau kesepian. Puisi yang aku sampaikan tadi cukup menggetarkan jiwa. Bagaimana kalian sudah bisa membayangkan seperti apa jalan ceritanya? Jika ada yang bisa menebak alur ceritanya tentunya pasti mas
104.5K viewsOngoingAdded to Library 157 Times as puisi monolog
Read
+Library
Rahasia di Balik Perjalanan Dinas Suamiku

Rahasia di Balik Perjalanan Dinas Suamiku

' monolognya dalam hati. Sejenak ia memperhatikan situasi kamar, serta interior kamar yang begitu menawan, 'bos mereka pasti bukan orang biasa, lihat saja kamar untuk menyekapku saja semewah ini, gila! tapi siapa?' monolognya dalam hati. Hasan semakin penasaran, ia sudah tak sabar untuk menanti kedatangan sang dalang. "Apa ku bilang, dia itu dongo! Lihatlah, tadi sok-sok'an bicara sekarang malah melongo, persis banget kaya,--"
106.1K viewsCompletedAdded to Library 194 Times as puisi monolog
Read
+Library
Thirty Days

Thirty Days

Pada akhirnya ia memilih duduk bersandar di tembok toilet. Nohan terdiam cukup lama, ia memandangi langit-langit toilet yang berwarna putih. "Andai saja hidupku tidak semengerikan ini!" monolognya dengan perasaan hampa. Setiap kali kau bertindak, akan selalu ada konsekuensi yang tidak pernah kau tahu, Nohan.
2.7K viewsCompletedAdded to Library 87 Times as puisi monolog
Read
+Library
DOSEN Itu, IBU ANAKKU

DOSEN Itu, IBU ANAKKU

“Aku gak boleh egois. Kamu… cuma punya aku. Jadi aku harus kuat. Aku bisa. Aku pasti bisa sendiri.” Monolog itu seperti mantra, ia ulang-ulang, meski hatinya masih goyah. Lebih baik sendiri. Lebih baik tanpa siapa pun. Aku gak butuh laki-laki itu. Aku gak butuh siapa pun. Air mata akhirnya jatuh juga, tapi ia buru-buru menghapusnya. 'Aku gak boleh rapuh. Aku gak boleh bikin kamu lemah cuma karena ibumu ini lemah.'
1.0K viewsOngoingAdded to Library 20 Times as puisi monolog
Read
+Library
PREV
12345
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status