Rayuan Maut Para Tetanggaku
Aku menggeram, mencoba melangkah maju, namun dua pria berbadan tegap langsung menodongkan senjata ke arah kepalaku.
"Jangan gegabah, Sayang," wanita itu terkekeh sambil mengusap rahangku dengan jemarinya yang dingin. "Hormon yang mengalir di nadimu itu adalah racun sekaligus anugerah. Tanpa dosis penawar yang hanya aku miliki, pembuluh darahmu akan pecah dalam hitungan hari. Kamu akan mati dalam keadaan gairah yang menyiksa."