SUCI TAK PERAWAN
Duduk bersila seakan tidak nyaman dengan keberadaannya.
Lagi-lagi Kak Alan hanya bisa menghela nafas panjang.
"Rujaknya Kakak bawa. Kakak taruh di kulkas, makanlah nanti jika ingin," ucapnya sambil beranjak pergi.
"Kamu berhak mendapatkan wanita yang belum pernah tersentuh, Kak. Bukan barang bekas seperti aku. Daripada kau mengorbankan diri untukku, lebih baik aku kembali pada pria itu. Pria yang sudah membuatku mengandung anaknya," lirihku, mengirimi langkah kaki Kak Alan yang terlihat gontai.