Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku
Tangan yang menyangga hidup Anindya berkali-kali tanpa diminta.
Tanpa sadar, air mata itu jatuh. Bukan pecah, bukan meledak, hanya jatuh, diam-diam, seperti sesuatu yang tidak bisa dia tahan lagi.
Arvendra langsung menunduk. “Loh, kenapa nangis? Kalau kamu nggak kuat obati, saya obati sendiri.”
“Aku bukan nangis karena takut ngobatin.” Anindya mengusap pipinya sendiri, tapi jemarinya gemetar. “Aku … nangis karena … Mas sampai ngelakuin semua ini buat aku.”