Luka Yang Dirindukan
Ingin jalan-jalan, memburu makanan yang sulit sekali ditemukan ketika ia tinggal di luar negeri, menghubungi teman-temannya, dan banyak lagi hal yang bahkan belum tercatat di otak.
Fery hanya tertawa mendengar ocehan adiknya yang terasa konyol.
“Udah kayak bocah aja kamu, Vin. Apa-apa dihafal, dibaca, dan diyakini bakal terealisasi. Haduh, parah.”
Tawanya menggelegar memenuhi ruangan. Dan bersambut di ruang utama. Ibunya juga ikut tertawa.
Fery terduduk di sofa mini tak jauh dari ibunya. Masih tertawa.
Hot Chapters