KINASIH
Aryo mengucap terima kasih berulang kali dan keluar ruangan, sementara Bayu menyeringai menatap pintu yang kembali tertutup.
"Ternyata, kau masih sama saja. Mata duitan!"
Bayu kembali membuka laptop. Barisan huruf dan angka beradu dalam otaknya, sesekali dia merenggangkan jari jemari dan bahunya yang terasa kaku. Satu per satu berkas selesai. Keringat di pelipisnya mengalir dan jatuh di kerah kemejanya. Bayu mengusap dengan punggung tangan, meraih botol minum dan meneguk isinya hingga habis setengah. Saat itulah, ponsel di meja berdering. Sebuah panggilan masuk, mendesak, karena tak kunjung diterima si empunya.
Hot Chapters