Hati Yang Tak Pasti
Makan siang yang sedang ia santap dengan lahap beberapa menit lalu tidak lagi membuatnya berselera.
“Wa—wait, wait, maksudnya apa sih? Tiba-tiba banget.” Jesatya meletakkan sendok dan garpunya di atas piring lalu menatap Gia lekat. Gadisnya itu tidak tampak bercanda sedikit pun.
“You heard me,” balas Gia. “Kita putus aja, Je. Apa kamu enggak capek? The sparks is gone.”
Jesatya menggeleng, menyanggah ucapan Gia itu. “Putus bukan jalan keluarnya, Gia. Kita udah pernah ngelewatin ini, ‘kan?”
Hot Chapters