Dia Gampang Dibujuk
Aku berjalan dua langkah ke arahnya, tetapi justru bertemu dengan tatapannya yang penuh kepuasan.
Cahaya di mataku pun padam. Aku sudah mengerti sekarang. Di matanya, melanggar kebiasaan demi diriku sudah dianggap sebagai cara membujukku. Menurutnya, dengan begitu aku seharusnya tidak akan ngambek lagi.
Sebelumnya, cara ini selalu berhasil. Namun, kali ini aku hanya menggeleng pelan. "Nggak perlu."
Luka sudah terlanjur tercipta. Sebesar apa pun usaha untuk menebusnya, luka di hatiku tetap tidak bisa dipulihkan.