Setelah Kamu Pilih Dia
Di layar laptop, muncul judul yang selama ini ia simpan diam-diam:
“Setelah Kamu Pilih Dia.”
Bukan sekadar judul untuk mengenang luka, tapi sebagai penanda bahwa ia pernah ada di titik paling rapuh, dan memilih untuk tumbuh — bukan membalas, bukan menyesali.
Rayhan melihat layar itu sekilas saat lewat. “Itu judul yang… nyaris terdengar getir, tapi justru terasa lega.”
Dinda tersenyum. “Karena aku nulisnya bukan pas masih marah. Tapi pas udah damai.”