Air Mata di Antara Bunga
Begitu aku melangkah keluar rumah, dia sudah berdiri di sana, diterpa angin dingin.
Dia menggosokkan kedua tangannya, menatapku dengan sorot mata yang penuh makna.
“Di sini sangat dingin… kamu sudah terbiasa, Vanya?”
Sungguh aneh. Hanya dalam hitungan bulan, perasaanku terhadap Rangga berubah total.
Tak ada lagi benci, tak ada lagi sakit—semua terasa datar, setenang air.
Aku berdiri di tempat, menatapnya, menjawab dengan nada biasa seolah hanya ditanya tentang menu makan siang.