Pustaka
Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
SENYAWA

SENYAWA

Ada senyum tersungging di bibir Varo mendengar ucapan Meera. “Ga usah takut sama aku, Ra. Aku udah jinak,” ucap Varo sambil melihat Meera di pantulan pintu lift. “Iya, aku tahu, kok,” ucap Meera lagi. Ia sedikit mencengkeram tas sandang yang dipegangnya, rasanya sangat canggung di dalam satu lift dengan Varo. “Memang ada acara apa sampai harus pulang cepat, Ra?” tanya Varo penuh selidik, matanya pun ia picingkan demi melihat gerak gerik Meera dari pantulan pintu lift.
2.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 68 kali sebagai lentera senja
Baca
+Pustaka
CATATAN UNTUK SENJA

CATATAN UNTUK SENJA

Kemudian Devan berlalu pergi meninggalkan Senja, setelah semuanya berakhir dengan rasa kecemburuan. Senja memasuki kamarnya, membanting pintu dan meletakkan kantong, yang berisikan cokelat di atas meja belajarnya. Lantas, menjatuhkan diri di atas tempat tidur. "Langit, kenapa harus dekat sama Neysa. Langit tahu? Kalo Senja sangat mencintai Langit, Senja cemburu melihat Langit dekat sama Neysa!"
105.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 181 kali sebagai lentera senja
Baca
+Pustaka
JERAT CINTA SANG RENTENIR

JERAT CINTA SANG RENTENIR

Dia semakin menyeringai. "Coba saja kalau kau bisa!" Suara bariton itu muncul dari arah jalan. Aku dan Bara sama-sama menoleh, melihat Ren kini berdiri di samping mobil fortunernya sambil membawa kotak bekal bertingkat tiga di tangannya.
1015.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 618 kali sebagai lentera senja
Baca
+Pustaka
Hasrat Terlarang Paman Suamiku

Hasrat Terlarang Paman Suamiku

Enam bulan berlalu sejak hari-hari penuh luka itu. Waktu memang tak pernah berhenti, meski hati manusia sering tertinggal di belakangnya. Sore itu, rumah Nenek Vero terasa hangat oleh cahaya matahari yang masuk melalui jendela-jendela besar bergorden krem. Aroma teh chamomile bercampur kue mentega buatan sang nenek memenuhi ruang tengah. Lena duduk di sofa tua yang empuk, berhadapan dengan Selena—saudara kembarnya—yang kini tengah mengelus perutnya yang membuncit sempurna.
1040.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.1K kali sebagai lentera senja
Tampilkan Ulasan (21)
Baca
+Pustaka
J Shara
Hai Semua. Jangan lupa mampir juga di buku baruku berjudul, "Tolong Perlahan, Dokter Nate!" yang judul awalnya "Ajari Aku Bercinta, Dokter Nate!" menceritakan tentang seorang penulis cerita dewasa yang melakukan praktek "panas" bersama ahli seksologi demi bisa menulis adegan dewasa. Happy reading^^
Sylvia Citra
kak, kenapa jalan ceritanya berubah setelah lena pergi ninggalin neil atas suruhan mantan mama mertuanya? kan awalnya neil udah tau, neil sendiri yg anter lena ke dokter. kok sekarang jadi ga tau kalo lena hamil? malah nanya hamil anak siapa lagi? kan kesel!
Baca Semua Ulasan
Pesona Paman Seno

Pesona Paman Seno

Dengan mudahnya dia tersulut oleh ucapan kotor Rindu barusan. Tak ingin bermain-main lagi, Seno lantas mengangkat salah satu kaki Rindu ke atas pundaknya. Lalu mulai mengarahkan senjatanya memasuki lubang sempit Rindu. Jleb Bless Dalam sekali hentakan, Seno akhirnya dapat menembus pertahanan terakhir Rindu. Pria itu menggeram merasakan cengkraman kuat pada miliknya yang dijepit rapat oleh inti Rindu.
1.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 36 kali sebagai lentera senja
Baca
+Pustaka
SENJA YANG KELABU

SENJA YANG KELABU

terjatuh, untung saja Sari masih bisa menangkis piring yang dilempar Sinta, kalau tidak, bisa mengenai kepalanya atau wajahnya, karena lemparan yang sangat kencang piring tersebut pecah dan melukai tangan Sari hingga mengeluarkan darah segar, Wina langsung teriak melihat tangan sahabatnya mengeluarkan darah segar, Wina yang kali ini tidak bisa menahan emosinya langsung menyerang Sinta, mereka saling jambak - menjambak, Hans mencoba melerai mereka tapi Hans terpental mundur beberapa langkah, kena tangan Sinta yang mencoba melawan Hans saat akan melerainya, Sementara Angkasa dengan cepat menghampiri Sari karena merasa panik, tidak memperdulikan Sinta dan Wina yang saling menyerang. Sari menah
4.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 121 kali sebagai lentera senja
Baca
+Pustaka
Pengantin Samudera

Pengantin Samudera

“Baiklah, asal jangan keluar dari area kamar kita.” Sena menutup kembali dan mengatur duduknya di teras. Kamarnya yang bersebelahan dengan Cara membuat ia bisa melihat bahwa Catra juga masih belum tidur dan tengah duduk di teras bersebelahan dengan dirinya. Sena menghampiri Catra, dan duduk tepat di sebelahnya. “Sebenarnya apa yang kamu tahu tentang diriku?” tanya Sena. “Buanglah kalung yang kamu kenakan di lehermu, jika kamu ingin tahu jawabannya. Itu sebuah kalung dengan cincin kuno sebagai liontinnya kan?” pinta Catra.
109.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 227 kali sebagai lentera senja
Baca
+Pustaka
SPERANZA

SPERANZA

teriak Byakta dan kembali membersihkan kamarnya. Speranza melongo. "Dia memaki ku?" gumam Speranza tak percaya. Dia berdiri dan mengambil bantal yang dilemparkan Byakta ke arahnya. Speranza melempar bantal itu ke arah Byakta dengan sangat kuat. "JANGAN PERNAH MEMAKI KU, BRENGSEK!!" teriak Speranza menatap Byakta dengan tajam. Byakta yang mendapatkan perlakuan itu kesal setengah mati. Dia menggulung lengan bajunya yang pendek dan mengambil bantal yang berada diatas ranjang.
102.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 93 kali sebagai lentera senja
Baca
+Pustaka
Kemilau Senja

Kemilau Senja

sahutku singkat sembari menarik napasku perlahan, pelukan erat ini mampu membuatku sulit bernapas lega. "Seharian tidak bertemu kamu, kenapa hal itu membuat aku rindu sama senyuman kamu ya, Dini," ucapnya lembut, ia membisikkan kata-kata itu tepat di telingaku. Rasanya merinding seluruh tubuhku, seakan seperti mimpi.
1011.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 307 kali sebagai lentera senja
Baca
+Pustaka
Jasad di Kala Senja

Jasad di Kala Senja

Di saat yang bersamaan Damian juga tersenyum sambil melambaikan tangan kepada Loen. “Sampai jumpa lagi senior.” “Ah, iya,” ucap Loen dengan sedikit tersentak Setelah mereka berdua bertemu dengan Demian, sekarang ini mereka berada di sebuah warnet yang berada di dekat wilayah pusat kota bagian timur. Loen yang sebelumnya sangat tertekan kini dirinya bisa bernafas dengan lega karena sudah pergi dari tempat itu. Tiba-tiba saja dirinya mendapatkan sebuah pesan dari seseorang yang tidak dikenal. Pesan tersebut berisi ucapan terimakasih dan itu membuatnya sedikit kebingungan.
5.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 103 kali sebagai lentera senja
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
8
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status