Tunggu Pembalasanku, Mas!
Hanya mengijinkan salah seorang diantara mereka untuk masuk.
Mas Hanif mengalah dan mempersilakan ibunya untuk masuk. Lalu Mas Ahmad kembali menutup pintu dari luar.
Entah apalagi tujuannya datang kemari. Yang jelas, aku sudah sangat muak melihat wajahnya.
"Mas Lukman, gimana keadaanmu? Mas baik-baik saja, kan? Aku turut prihatin ya, Mas. Ini aku bawa parcel buah, mohon diterima ya, Mas."