Penakluk Cinta Sang Dosen
Satrio menggeleng, “Aku tidak peduli. Seperti yang kubilang tadi Kek, aku yakin, Caca akan mencintaiku seiring berjalannya waktu. Hati perempuan mana yang tidak akan luluh jika setiap hari disirami dengan perhatian dan pengertian? Batu karang yang keras saja hancur karena terkena ombak selama bertahun-tahun, apalagi ini hati seorang perempuan yang lembut.”
Kakek tertawa mendengar analogi tersebut. Lalu, dengan gerakan lambat, Kakek menatap ke depan, ke arah taman bunga yang berantakan karena tidak selesai dikerjakan. Terlihat jelas potongan bunga berantakan di sana-sini dan gundukan tanah basah.
Kakek berkata dengan suara mantap, “Kakek suka sikapmu yang sekarang. Kamu berani bertarung. Tida
Hot Chapters