Mengembalikan Senyum Bidadari
“Apa karena harta yang aku punya, hingga kamu tertarik? Hartaku enggak banyak, Ros. Belum ada apa-apanya dari kekayaan yang ada di bumi ini.”
Rosa diam, tak berani menyela pembicaraan Pandu.
“Betapa mahal yang harus kita bayar di akhirat kelak. Aku takut, Ros. Aku takut enggak sanggup menghadap Allah dengan wajah penuh dosa.” Pandu tertunduk, tubuhnya bergetar hebat. Dulu, ketika cinta berlandaskan nafsunya menggelora, ia tak ingat nasib setelah kematian. Dengan mudah berbuat dosa dan menjatuhkan talak pada Alina. Sekarang, ketika cintanya pada Alina bertakhta, Pandu takut dan bingung, apakah ia harus melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya?