SELALU SALAH
Mas Adit menepuk pipiku pelan.
"Sudah sampai mana, Mas?" aku mengerjap. Pusing di kepalaku sudah lumayan reda.
"Lihat, kita sudah sampai alun-alun Batu!" mas Adit membukakan pintu mobil.
"Cepatnya, Mas, gak kerasa aku."
"Kamu kan tidur, mana kerasa," Mas Adit memencet hidungku gemas.
"Kebiasaan banget sih, mencetin hidungku. Udah tahu hidungku pesek, kalau tambah pesek gimana?" aku mencebik kesal. Maa Adit malah tertawa.
Hot Chapters