DIPTA
Dan untuk beberapa detik, Aira benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Arjito Rajendra berdiri di depan jendela besar ruang kerjanya sambil memandangi gedung-gedung tinggi di luar. Pagi itu Jakarta sedang mendung. Langitnya abu-abu, sama seperti suasana hatinya sejak tadi. Di atas meja, sebuah map berisi proposal kerja sama masih terbuka. Ia sudah membacanya semalam, bahkan sampai dua kali. Perusahaan tempatnya bekerja memang sudah beberapa bulan terakhir mencari partner lokal untuk proyek baru mereka di Indonesia, dan dari semua nama yang masuk, satu perusahaan akhirnya dipilih, Mahesa Group.
Hot Chapters