Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
SURA, PANGERAN TERBUANG

SURA, PANGERAN TERBUANG

Lin Boa menunduk dan masuk ke kamarnya, menangis tersedu-sedu hingga langkahnya hilang di balik pintu. Ketenangan pun kembali menyelimuti Istana Surgawi. Angin berhembus sepoi, membuat ranting dan daun Pohon Persik Spiritual bergoyang lembut seperti menari, menghibur suasana istana yang sunyi. “Master, ini tehmu!” ujar Sen Butao sambil membawa nampan kecil. “Teh ini terbuat dari sehelai daun persik spiritual yang aku suling sendiri dengan metode pembuatan manisan. Aku yakin rasanya nikmat, menenangkan hati, dan menghangatkan tubuh Master!”
109.9K viewsCompletedAdded to Library 326 Times as puisi pak sapardi
Read
+Library
Suamiku Pulang, Tapi Aku Menyesal

Suamiku Pulang, Tapi Aku Menyesal

Siang harinya, dia juga kirimkan berbagai pesan padaku, seperti: [daun gugur indah yang jatuh di jalan], [makan siangnya] dan [teori apa yang dia temukan hari ini]. Pada malam hari, dia cuci piring dan kerjakan pekerjaan rumah, mengucapkan selamat malam pada kami berulang kali sebelum tidur, begitu sabar dan gigih. Aku tidak tahan lagi dan pergi menemui Vianie. Aku sedikit terkejut saat melihatnya.
19.2K viewsCompletedAdded to Library 767 Times as puisi pak sapardi
Read
+Library
Sebelum Aku Pergi

Sebelum Aku Pergi

bisiknya. Setelah makan selesai, Aruna kembali terlelap. Glen tetap duduk di sisi ranjang, tidak ingin kehilangan satu detik pun dari keberadaan perempuan itu. Ia mengeluarkan buku kecil dari tasnya—buku puisi yang ditemukan oleh asisten rumah saat membereskan apartemen. “Dari semua bait yang kau tulis, ini yang paling menyakitkan,” gumam Glen sambil membuka halaman dengan puisi berjudul "Aku Tidak Ingin Mati, Tapi Aku Lelah Hidup Sendiri.”
2.0K viewsOngoingAdded to Library 52 Times as puisi pak sapardi
Read
+Library
Pakde sang Penakluk

Pakde sang Penakluk

Dia memutar tubuhnya mencari barang miliknya di dalam tas. style="letter-spacing: 0.1px;"> style="letter-spacing: 0.1px;">"Oh iya, Pakde, ini..." Gendis menyodorkan dua bungkus rokok merek Sampoerna. Gendis tahu betul pantangan dan kebiasaan Sugiono. style="letter-spacing: 0.1px;">
108.6K viewsOngoingAdded to Library 301 Times as puisi pak sapardi
Read
+Library
Ai (Untuk Leo)

Ai (Untuk Leo)

Kau Maha Adil Sang Pencipta Raga dan jiwaku kau wakilkan Hingga kubisa tenang pada waktunya Tunggulah aku semuanya Susulanku segera kalian terima Hingga waktu itu tiba Leo terkesan dengan dengan sajak puisi yang telah ia baca tersebut. Ia yakin, puisi ini memiliki makna tersendiri dan bukan hanya sekedar karangan. Terpikir dalam pikirannya untuk mencari tahu siapa penulisnya. Maka dibukalah lagi lembaran berikutnya. "Berlarilah karena mimpimu, jangan dengarkan perkataan mereka tentang mimpimu, Biarkan mereka tidak tahu, siapa sebenarnya dirimu."
103.9K viewsOngoingAdded to Library 89 Times as puisi pak sapardi
Read
+Library
Rumah Tengah Hutan

Rumah Tengah Hutan

Kapan? Baiklah, sekarang aku ingat. Sudah lama sekali. Aku pernah membuat puisi ketika kelas 1 SMP dahulu. Banyak tahun yang lalu ternyata. Kelam hari adalah rasa Manusia suci sungguh tiada Kecuali dia sang Baginda Padanya kita meminta Tentang dunia yang nanti fana Akhirnya, manusialah pencinta Agar sampai kepadanya
8.99.9K viewsCompletedAdded to Library 266 Times as puisi pak sapardi
Read
+Library
4 PUSAKA PENAKLUK JAGAT

4 PUSAKA PENAKLUK JAGAT

Di waktu pagi saat ayam jantan berkokok dan kicauan burung-burung menyambut sinar matahari di langit timur, Sapardi, juru masak yang biasa bekerja di dapur, berjalan tergesa-gesa menuju kamar Giandra. “Kakang Giandra Lesmana! Cepat keluar, Kakang!” ujarnya dengan sangat mendesak. Giandra ternyata baru saja selesai mandi, dia pun segera buru-buru mengenakan pakaian, kemudian langsung membukakan pintu. Sapardi berdiri di hadapannya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
105.4K viewsOngoingAdded to Library 204 Times as puisi pak sapardi
Read
+Library
Sang Pewaris

Sang Pewaris

Lalu di tengah ruangan ada kursi kayu dan meja yang kaki-kakinya sudah lapuk dimakan rayap. Sebelum berangkat ke sekolah, aku akan menyiapkan sarapan untuk ibu, menyuapinya, lalu menyimpan piring bekas makan ke dapur. Kemudian meletakkan teko dan cangkir di atas mesin jahit rusak dekat tempat tidur, agar beliau lebih mudah mengambil air jika sewaktu-waktu beliau haus. “Ucil pamit Bu!” kucium punggung tangannya sebelum meraih tas usang yang tergantung di samping pintu, satu-satunya tas yang kumiliki.
9.643.2K viewsOngoingAdded to Library 1.1K Times as puisi pak sapardi
Read
+Library
Sang Penguasa

Sang Penguasa

Sebelum melakukan hubungan antara pria dan wanita, selalu membutuhkan sedikit bumbu penyedap. Setelah menghabiskan setengah botol anggur merah, wajah Rudi memerah dan napasnya memburu. Karung tersebut pun terlihat menjadi dua. "Aprilia, terkadang aku benar-benar tidak dapat menebak apa yang kamu pikirkan. Mengapa memilih seorang sampah yang tidak memiliki uang maupun kekuatan, bahkan tidak berharga, daripada bersamaku?"
8.8146.1K viewsCompletedAdded to Library 4.8K Times as puisi pak sapardi
Read
+Library
Sang Penari Pujaan Hati

Sang Penari Pujaan Hati

"Tante lupa kalau Esa itu penyuka seni. Bukankah sebelum bekerja dengan Papa, Esa adalah seorang pelukis. Jadi, seni apa pun akan sangat menarik bagi Esa." "Bisa saja kamu, Sa. Tariannya sudah selesai. Apalagi yang mau kamu tunggu. Ayo kita nikmati hidangan di hajatan ini," ajak Pambudi yang melangkah terlebih dahulu mencari tempat makanan disediakan. "Beneran sudah selesai, Tan?" tanya Mahesa masih penasaran. "Sudah. Lagian kenapa kamu pengen banget lihat tari Gandrung, sih."
104.7K viewsCompletedAdded to Library 108 Times as puisi pak sapardi
Read
+Library
PREV
1
...
5678910
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status