Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Aira's

Aira's

Bait Untukmu Setetes air mata telah memadamkan semangatku, Seucap kata dari kau telah membelah hatiku, Kau bilang aku bodoh, Kau bilang aku tak gigih, Pembacaan puisi yang ditayangkan perdana di tv nyaris membuat ayah menangis seorang diri ketika mendengar dan melihat bagaimana pilunya Aira membaca puisi. "Maafkan Ayah Nak!" batin ayah sendu dan meremas kuat selimut yang ia pakai.
1014.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 341 kali sebagai puisi tentang tanah air
Baca
+Pustaka
Rimba Memburu Senala

Rimba Memburu Senala

Saram dikenal bukan karena banyak bicara, tapi karena satu antologi puisi berjudul Tanah yang Menolak Diam. Puisi-puisi dalam antologi itu bukan sekadar kata-kata: mereka menggugah lapisan realitas. Salah satunya, “Nyanyian Retakan Ketiga,” dibacakan secara tak sengaja di Balairung Batu saat musim kekeringan. Sesaat setelah bait keempat, tanah di bawah Tilangkar retak perlahan, mengalirkan air asin dari dalam bumi yang diyakini telah mati. Warga menyebutnya air kenang, karena baunya memancing ingatan orang-orang akan tempat yang tak pernah mereka kunjungi, tapi mereka rindukan.
101.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 48 kali sebagai puisi tentang tanah air
Baca
+Pustaka
Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana

Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana

Inilah puisi yang akan ia bacakan di depan semua peserta lomba. [Terbangun aku di negeri asing tanpa peta, Di mana napas beraroma racun dan prasangka. Kulihat sepasang mata sehitam jelaga, Menatapku benci, sekaligus merengkuhku dari putus asa. Kau adalah rahasia yang dibawa angin senja, Lekas berubah arah, namun meninggalkan rindu yang begitu nyata....]
1014.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 287 kali sebagai puisi tentang tanah air
Baca
+Pustaka
Istri yang Tak Didambakan

Istri yang Tak Didambakan

Di sudut taman kecil itu, di bawah langit senja yang berwarna jingga, mereka berdiri bertiga. Saling berbagi tawa, air mata, dan harapan. Bukan keluarga sempurna, tapi keluarga yang belajar untuk tidak menyerah. Keluarga yang tahu, bahwa bahagia itu tidak harus megah—cukup bersama orang-orang yang membuat dunia terasa lebih indah untuk dijalani. Dan di sanalah mereka–memulai babak baru yang benar-benar baru. “Akhirnya, kita benar-benar pulang ke rumah yang seharusnya.” Alya membalas genggaman tangan Hendra dengan senyum penuh keikhlasan.
105.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 208 kali sebagai puisi tentang tanah air
Baca
+Pustaka
Istri Yang Tidak Dirindukan

Istri Yang Tidak Dirindukan

Membuat ia lupa sejenak sampai pada kehidupan nyata, patah hati ditinggalkan wanita yang ia dambakan. *) berhentinya pernapasan karena zat kimia tertentu, yang menghalangi peredaran oksigen melalui pembuluh darah. **) sebutan untuk kepala polisi
2.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 80 kali sebagai puisi tentang tanah air
Baca
+Pustaka
Suatu Senja di Tanah Senja

Suatu Senja di Tanah Senja

Meninggalkan air muka penuh iba di belakangku bersama seluruh bisik-bisiknya. Rumahku terletak sekitar lima puluh meter dari pasar setelah belok kiri. Rumah itu sebuah rumah sederhana yang terbuat dari kayu dan bambu. Tapi begitu, di sanalah, di rumah sederhana itu, aku lahir dan akar pertama hidupku tumbuh mencengkeram tanah. Di sanalah, di rumah sederhana itu, harapan dan impianku berbiak memperindah hari-hari. Dan di sanalah, di rumah sederhana itu, awal dari kemalanganku yang bertubi-tubi. Kini, berdiri di hadapannya kepalaku dibanjiri kenangan masa lalu. Aku gemetar di tempatku. Darah berpacu kencang dalam urat nadiku, jantungku berdetak liar. Rumahku masih terlihat sama dengan saat ter
105.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 206 kali sebagai puisi tentang tanah air
Baca
+Pustaka
Istri yang Kau Remehkan

Istri yang Kau Remehkan

Suri tertawa. Lihatlah, digombali receh seperti ini saja, jiwanya sudah melayang sampai ke bulan. Inilah bedanya jika digombali oleh orang yang kita cinta. Walau kalimat yang digunakan adalah pengulangan kata dari zaman baheula, tapi rasanya mengena. Coba kalau digombali oleh orang yang tidak kita suka. Dibacakan puisi tujuh hari tujuh malam pun tidak akan terasa syahdunya.
1082.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.6K kali sebagai puisi tentang tanah air
Baca
+Pustaka
Istri Pelupa yang Kau Buat Luka

Istri Pelupa yang Kau Buat Luka

"Aysan, aku harap kau bahagia, Nak. Walau ... Aku mengharapkan kehadiran seorang anak, tapi sayangnya kamu bukan anak dari pria yang aku harapkan, sayangnya ayah mu bukan pria yang aku cintai, tetapi pria yang menyakiti ku, yang melukai dan memberiku trauma yang tidak akan aku lupakan." Dia berbisik di telinga bayinya yang terbangun di tengah malah, dia meneteskan air mata sementara bayi itu hanya tersenyum bermain dengan tangan dan kakinya, menatap langit-langit ruangan. Nasya mengecup kening Aysan dan tanpa Nasya duga tangan kecil Aysan mengelus pipi Nasya dan mengelap air mata yang jatuh dari pipi ibunya.
103.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 121 kali sebagai puisi tentang tanah air
Baca
+Pustaka
Pendekar Pedang Bulan Sabit

Pendekar Pedang Bulan Sabit

“Tanah. Dalam jiwa, tanah adalah tempat menyemai dan menuai. Jiwa menyemai bibit kebaikan dan menuai kebahagiaan. Tanah berwarna coklat kehitaman seperti jiwa yang subur dalam serbuan hijau pepohonan.Pepohonan jiwa manusia untuk keteduhan. “Sedangkan udara. Udara tak kasat mata, namun bagian terpentingnya adalah bagian paru-paru. Udara adalah elemen pesan tak tertulis. Elemen kata yang mendiami rasa dijiwa. Udara yang melayang membuat jiwa terbang menjarah ke tempat yang tak bisa dijangkau oleh raga. Dengan sifat udara, jiwa mampu menyelusup ke dalamnya. Merasakan desiran nestapa atau letupan bahagia. Kehalusan udara dan menyamai halusnya jiwa.”
102.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 72 kali sebagai puisi tentang tanah air
Baca
+Pustaka
Tanah Larangan: Jangan Bawa Pulang Apa pun

Tanah Larangan: Jangan Bawa Pulang Apa pun

Matanya memandang jauh, seperti menembus waktu. "Dulu… sebelum kita semua lahir, tanah ini bukanlah milik manusia," ucap Ki Harjo lirih. "Daerah bukit kecil, rawa, dan dua pohon beringin itu adalah wilayah suci bangsa lelembut. Mereka tinggal berdampingan, tak mengganggu. Tapi manusia, seperti biasa, mulai serakah."
1.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 36 kali sebagai puisi tentang tanah air
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
8
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status