Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Warisan Terlarang: Kontrak Darah 90 Hari

Warisan Terlarang: Kontrak Darah 90 Hari

“Kalau itu harga yang harus kubayar, biarlah dunia membaca ulang dengan mataku.” Langit di atas mereka bergetar keras. Hujan tinta turun deras, mengubah tanah menjadi lautan gelap. Di tengah badai itu, cahaya dari keris Lira memanjang, membentuk pena di ujung bilahnya. Ia menulis di udara, huruf demi huruf, sambil berbisik: “Hari kedua, aku menulis bukan dengan darah, tapi dengan keberanian untuk mengingat.”
101.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 48 kali sebagai suara hujan dalam tulisan
Baca
+Pustaka
Mantan Suami Memohon Cintaku Lagi

Mantan Suami Memohon Cintaku Lagi

Suara hujan pertama jatuh seperti rintik ragu, tapi hanya butuh hitungan detik sebelum langit benar-benar pecah. Air turun dari langit seperti ledakan sunyi, menghantam aspal Jakarta yang sudah penuh sesak oleh suara klakson, deru mesin, dan amarah yang tersembunyi di balik kaca-kaca mobil. Tina, dengan kedua tangannya yang kaku di setir, mulai panik.
1023.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 561 kali sebagai suara hujan dalam tulisan
Baca
+Pustaka
Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat

Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat

Bab 12: Pasal-Pasal Penghinaan Suara gesekan kertas yang dibalik terdengar seperti suara pisau yang diasah di tengah keheningan ruang kerja pribadi Hiroshi. Di luar, hujan mulai mengguyur Tokyo, membasahi kaca jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian. Namun, di dalam ruangan itu, atmosfernya jauh lebih dingin.
903 DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 24 kali sebagai suara hujan dalam tulisan
Baca
+Pustaka
ANILA - Kutukan Angin

ANILA - Kutukan Angin

Tangannya mulai menggarap sebuah tulisan. Anila tidak pernah mencurahkan atau mengatakan apapun didalam buku itu secara langsung. Karena, ketika ada orang lain yang membacanya Anila merasa tak nyaman, bahkan benci. Oleh karena itu, Anila selalu menuliskannya melalui bait-bait puisi yang hanya dapat dimengerti dan dirasakan oleh orang-orang yang yang benar-benar menggunakan hatinya. ~•~ [Aku suka hujan, sebab hujan tak pernah tampakan kesedihan,]
108.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 344 kali sebagai suara hujan dalam tulisan
Baca
+Pustaka
Kopi Pahit Di Tepi Sudiya

Kopi Pahit Di Tepi Sudiya

Suara guntur yang pecah di langit. Hatiku terasa pedih dan ringan sekaligus. Hujan pertama mulai turun. Setelah sekian lama cuaca selalu panas dan cerah, hujan turun sore ini. Butiran air bercampur debu meluncur turun dari jendela kaca. Tanpa sadar, lama sekali aku memandangi siluet Zidni melalui jendela kecil di Rumah Jurnalis.
2.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 52 kali sebagai suara hujan dalam tulisan
Baca
+Pustaka
Cermin Dari Nenek

Cermin Dari Nenek

Whusss! "Kok hawa hujannya malah panas sih?" Batin Lala heran. Hujan semakin deras, Lala mulai khawatir jika Kakaknya di rumah tidak melihat isi suratnya juga hari semakin bertambah larut saja. Whusss! Udara kencang mengacaukan arah hujan, Lala menghalau percikan air hujan dengan kedua lengannya agar tak membuat rambut dan wajahnya basah.
103.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 68 kali sebagai suara hujan dalam tulisan
Baca
+Pustaka
Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa

Salah sendiri ceroboh sekaligus tidak memberi tahu bisa menulis kata-kata bagus. "Ternyata kamu bisa menulis puisi, Van. Bagus pula!" pujiku antusias. Kaivan mengendikkan bahu. "Dan kamu seseorang yang selalu ingin tahu!" Aku tergelak, Kaivan kalau marah semakin terlihat tidak bisa menguasai salah tingkah. Dan, supaya tidak lengah, kamar adalah satu-satunya tempat membaca paling aman. Note: kata-kata dalam buku harian Kaivan adalah cuplikan dari buku Eyang Sapardi Djoko berjudul Hujan Di Bulan Juni.
103.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 140 kali sebagai suara hujan dalam tulisan
Baca
+Pustaka
SEHARUSNYA KAU IKUT MATI

SEHARUSNYA KAU IKUT MATI

Zraaass Suara hujan yang tidak henti-hentinya mengguyur Desa Muara Ujung pada malam itu, membuat suasana yang awalnya tenang menjadi sedikit kelam. Apalagi hujan yang sangat deras adalah sebuah hambatan bagi para warga untuk beraktifitas di keesokan harinya. Karena mungkin saja, hujan itu akan menggenangi sebagian tempat dan kebun-kebun mereka yang mengakibatkan mereka harus bekerja keras agar tanaman mereka tidak rusak oleh guyuran hujan yang sekarang terjadi.
1027.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 549 kali sebagai suara hujan dalam tulisan
Baca
+Pustaka
Suara Ketukan Di Tengah Malam

Suara Ketukan Di Tengah Malam

Karenina tampak semakin penasaran. "Secara, aku ga denger suara apapun. Kecuali, suara gemericik air dari kamar mandi. Engga ada suara ketukan, atau suara Adrian nyahut dari kamar mandi," ucap Selena mengakhiri ceritanya. "Menurut Selena, kemungkinan, ini adalah suara ketukan yang sering kamu bahas," timpal Adrian. "Emang suaranya kayak gimana?" tanya Celline.
2.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 64 kali sebagai suara hujan dalam tulisan
Baca
+Pustaka
THE FRAPPUCINO MURDER

THE FRAPPUCINO MURDER

Apakah dia teringat akan kisah sedih dari sebuah buku dongeng yang pernah kubacakan? Tidak. Bukan itu. Ini bukan suara tangisan. Ini suara hujan. Benar. Curah hujan sedang tinggi di bulan ini. Hujan yang cukup deras hingga atap kamar kami bocor? Tubuhku rasanya dihujani peluru air. Menusuk-nusuk tanpa henti, tanpa ampun. Apakah banyak tempat yang bocor? Bagaimana dengan gadis kecilku? Apakah dia kehujanan juga? Kuharap tidak.
3.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 103 kali sebagai suara hujan dalam tulisan
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
8
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status