Mr. Airlangga
“Ya sudah balik ke Jakarta sekarang, besok aku tunggu di kantor dengan ilustratornya. Pagi ya, jam 9!”
Aku hanya bisa melongo, menelan batagor yang mendadak terasa seret di tenggorokan. Memang mbak Dila ini Editor killer, lha kok apesnya aku dapet editor kayak dia. Dia selalu menganggap aku seperti junior di kantornya yang bebas dikasih instruksi semena-mena, padahal aku ini kan penulis yang sudah memberikan keuntungan di perusahaan publishing tempat dia bekerja. Sumpah lho aku sudah memberikan keuntungan. Biarpun bukan Dan Brown, karya-karyaku cukup laris manis di toko buku, lumayan buat menemani wanita-wanita romantis atau yang berharap menjadi romantis, mereka selalu menunggu buku-buku ba
Bab Populer