Istri sebatas harapan
“Bukan itu, Ust, nanti aku ceritakan, ya. Aku takut Farid curiga.”
“Ya, baik, Nisa. Mudah-mudahan ini hidayah untuknya, ya. Buah dari kesabaran kamu selama ini.” Ustadzah Tyas dan aku kembali ke tempat acara di depan teras masjid, pelataran juga parkiran mobil yang kami gunakan. Farid tampak berbaur, ia memakai gamis pria warna hitam, tak lupa peci hitam juga. Tampannya suamiku. Sedangkan anak-anak tidak ikut, mereka di rumah. Kedua mataku mengarah pada sosok Ilham yang sedang duduk bicara dengan beberapa anak-anak yayasan yang kami undang, segera kuputuskan pandangan mata lalu bergabung dengan ibu-ibu lainnya.
Hot Chapters