Pustaka
Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Ketika Istri Berubah cantik

Ketika Istri Berubah cantik

Aku masih menatap hujan yang kian deras. "Hay, pagi. Sayang." Aku memeluk Lintang dari belakang. "Mas, sudah bangun?" "Salat dulu sana keburu waktunya habis, Lintang." Aku terdiam masih diposisiku yang masih memeluk istriku. "Masih pagi, sayang." "Ayo malu lah ini sudah jam setengah lima lo, gimana kalau Jingga dan Dimas mencarimu." Aku menakut-nakuti Lintang.
1065.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.4K kali sebagai lintang kemukus dini hari
Baca
+Pustaka
Pelukan Dingin Tuan Muda

Pelukan Dingin Tuan Muda

*** Laiba menikmati kopinya yang masih mengepul pandangannya sedang memperhatikan hasil karyanya semalaman dan pendengarannya mendengar ada pergerakan di belakangnya nampaknya laki-laki itu telah bangun. "Pagi," sapa Laiba pada Makky yang sudah bangun namun masih terbaring melihat sekelilingnya yang nampak asing untuknya yang baru saja bangun kemudian melihat arloji yang ada di pergelangan tangannya. "Pagi? Ini masih jam 3!" protes Makky pada Laiba kemudian melihat ke arah jendela untuk memastikan jika belum ada matahari yang muncul. Laiba hanya menyunggingkan sudut bibirnya kemudian memberikan laki-laki itu sebuah botol minuman sambil menerima uluran tangan Laiba Makky menggerutu, "Kenapa t
1.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 64 kali sebagai lintang kemukus dini hari
Baca
+Pustaka
Perempuan Masa Lalu Suamiku

Perempuan Masa Lalu Suamiku

Dalam selembar daun yang jatuh diterbangkan angin, engkau menjelma Di bawah siraman cahaya matari, engkau mengada Bersama kesiur angin yang mencumbu tubuh, engkau hadir Dalam bayang di bening air, engkau menatapku, mengulurkan sekeping tanda mata bernama rindu! Pagi yang bingar di kost Dini. Usai membaca Al Quran dan wirid pagi, Dini melantai di dapur. Kostnya memang menyediakan dapur yang setiap saat bisa dipakai para penghuninya untuk memasak maupun sekadar memanaskan makanan. Sementara itu, Lintang sedang tidak bisa diganggu karena harus menyiapkan revisi skripsi dan pergi sebelum jam setengah tujuh. “Nasi gorengnya mantap, Din. Calon istri solehah, nih.” Lintang mengacungkan jempol. Sep
10106.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 2.4K kali sebagai lintang kemukus dini hari
Baca
+Pustaka
Dosenku Calon Suamiku

Dosenku Calon Suamiku

Dia masih mengintip kecil dan merangkak perlahan ke angkasa. Jam masih menunjukkan pukul lima dini hari. Mentari masih malu-malu menampakkan kilauan menyengatnya. Aspal jalanan masih hening tanpa bercak debu terjatuh. Heningnya kemacetan padat merayap kendaraan juga masih sangat hening.
2.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 50 kali sebagai lintang kemukus dini hari
Baca
+Pustaka
Pendekar Sinting dari Laut Selatan

Pendekar Sinting dari Laut Selatan

Empat ekor pula? "Ayo, mhakan. Jhangan malhu-malfu!" Angon Luwak mempersilakan dengan mulut masih terjejal daging panggang. Sepertinya memang benar-benar dia yang telah susah payah mencari ayam hutan! Di penghujung dini hari, sebelum warna kuning pucat matahari pagi menyembul perlahan di sebelah timur, orang-orang Laskar Lawa Merah melakukan serangan gelapnya.
99.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 229 kali sebagai lintang kemukus dini hari
Baca
+Pustaka
JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA

JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA

Kalung itu juga mungkin hanya pemberian biasa. Tidak lebih. Linggar menarik napas panjang. Ia memaksa dirinya tidur. *** Pagi harinya. “Linggar....” Linggar membuka mata. Cahaya subuh masih samar masuk melalui celah tirai. “Bangun.” Ia mengusap mata. Di depannya Ilalang dengan senyum lembut memegang tangannya. Ia memakai peci dan sarung. Seperti baru saja sholat Subuh.
102.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 77 kali sebagai lintang kemukus dini hari
Baca
+Pustaka
MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH

MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH

Siang hari di Desa Cialas. Cuaca saat itu sedang mendung menggantung. Jarum jam di dinding baru menunjukkan pukul sebelas lewat beberapa menit. Mak Acih merebahkan tubuh rentanya di atas balai-balai ruang tengah, berniat meluruskan pinggang sebentar sembari menunggu kumandang azan Zuhur. Semilir angin dingin yang terbawa dari lereng Gunung Salak lembut mengelus wajahnya, hingga Mak Acih tak sengaja tertidur pulas.
101.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 31 kali sebagai lintang kemukus dini hari
Baca
+Pustaka
LANGIT penuh MELODY

LANGIT penuh MELODY

Tanpa dosa dia bangun tanpa malu memperlihatkan tubuh polosnya, dan hal itu tak luput dari pandangan Langit yang duduk tidak jauh dari sana. Bahkan Melody dengan santai mengucek mata dan merenggangkan tubuhnya berkali-kali, sampai saat pandangan mereka kembali bertemu. Saat itulah, Melody tersadar dan langsung menutup bukit kembarnya dengan selimut. “Kamu sudah bangun?” tanya Langit bangun dan membawa nampan berisi sarapan, meski terlambat. “Udah,” jawab Melody sedikit malu, tapi berusaha biasa saja, “kenapa nggak membangunkanku?”
102.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 48 kali sebagai lintang kemukus dini hari
Baca
+Pustaka
SEPERTI MENDUNG

SEPERTI MENDUNG

Sangat indah, kata wanita itu, lalu lelaki yang ada di sampingnya memutarkan kepala untuk melihat langit biru sambil berdiri, oksigen pun dihirupnya begitu segar. Ada burung perkutut yang hinggap di pohon cengkih, suaranya begitu nyaring untuk menemani di pagi hari. Daun-daun cengkih beterbangan ketebak angin jatuh ke tanah tak beraturan. Bulat mata yang dimiliki oleh Riki masih melihat penampakan-penampakan suasana pagi di beranda rumah Ani. Dia pun sangat mensyukuri sekali atas nikmat yang Tuhan berikan kepadanya.
3.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 74 kali sebagai lintang kemukus dini hari
Baca
+Pustaka
Regresi Garwa Padmi: Dinginnya Dendam Sedap Malam

Regresi Garwa Padmi: Dinginnya Dendam Sedap Malam

"Wangimu berbeda pagi ini." Puspa tidak menyangkal. Tangannya terulur mengambil sendok yang diberikan Tilar. "Sedap Malam?" Kemuning mengerutkan dahi, lebih kepada dirinya sendiri. "Biasanya melati di pagi hari." "Aku sudah bosan melati, Bibi." Jawabannya membuat Kemuning merasa Puspa tidak sepenuhnya jujur, tapi juga tidak berbohong. Kemuning membuka mulut, lalu menutupnya lagi karena pertanyaan berikutnya terasa tidak perlu diucapkan.
10548 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 11 kali sebagai lintang kemukus dini hari
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
34567
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status