Pustaka
Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Menunggu Bulan

Menunggu Bulan

#Part_15 Pagi yang cerah menyapa pesantren Raya. Seperti tahun-tahun sebelumnya setelah ujian, para santriwati sibuk mempersiapkan lomba. Acara puncak menguji fisik, kekompakan, dan kemampuan bertaktik. Tak lama berselang peluit panjang pun dibunyikan, pertanda pertandingan akan segera dimulai. Seketika sorak-sorai para santriwati membahana menggelitik kaki Raya.
2.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 117 kali sebagai pantun santri
Baca
+Pustaka
LORO

LORO

Keraguannya tersendat sementara ketika matanya berjumpa dengan wajah Raden Patah dan Sunan Kalijaga yang datang menghampiri. "Assalamualaikum, Kanjeng Sunan Kalijaga, Gusti Raden Patah." "Waalaikumsalam," Keduanya menjawab salam dari santriwati. "Kamu boleh kembali ke pondok, Syah. Terimakasih sudah membantu Zahra," ucap Sunan Kalijaga disusul senyum tulus Raden Patah. Santriwati itu mengangguk pelan. "Sama-sama, Sunan, Raden. Jika urusan saya sudah selesai, saya permisi. Assalamualaikum."
104.1K DibacaTertahanDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 148 kali sebagai pantun santri
Baca
+Pustaka
TUMBAL PENGANTIN

TUMBAL PENGANTIN

"Sekarang keluarga kita kayak dikirim santet, banyak serangga bau busuk, nenek mati gak wajar juga, kemarin Papa muntah darah." "Coba tebak siapa yang ngirim santet?" Tanya Rani. "Mama curiga sama kerabatnya Rumi, biasanya santet itu dikirim sama orang yang dendam. Asal kamu tahu, Rumi itu mati karena tradisi tumbal pengantin. Kusumadinata yang tahu. Coba tanya kakek kamu di kuburan." Rani melengos pergi. Edwin dan Intan lanjut menyambangi kamarnya. Mereka lantas merebahkan diri di atas ranjang.
102.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 113 kali sebagai pantun santri
Baca
+Pustaka
Sang Pewaris yang Terbuang

Sang Pewaris yang Terbuang

Bab 012 : Tempat asing "Kai, apa kau yakin ini adalah tempat yang aman?" Tanya Terry. Ia mengedarkan matanya melihat sekeliling. Halaman bangunan itu nampak berantakan, dengan sampah dan dedaunan yang bersebaran. Sulur yang tumbuh subur di dinding, menjuntai di tiap sisi tembok. Cat tembok yang kusam dan mengelupas, serta rumput liar yang tumbuh tinggi, sekitar selutut.
1.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 28 kali sebagai pantun santri
Baca
+Pustaka
Bangkitnya Sang Tuan Muda

Bangkitnya Sang Tuan Muda

Evellyne menggeleng, "Jangan meremehkan dirimu sendiri. Bakatmu tidak bisa diabaikan, aku yakin kamu bisa meraih kesuksesan dengan suaramu itu. Semangat!" Ethan tersenyum tipis, "iya. Tapi hidupku bukanlah seperti yang kamu pikirkan. Lihatlah? Aku hanya seorang pengamen jalanan. Bahkan aku harus berjuang setiap hari demi sesuap nasi." Evellyne mengangguk, ia mengerti apa yang diucapkan pria dihadapannya ini, "Aku tahu hidup itu tidak mudah, Ethan. Tapi, jangan menyerah pada impianmu. Aku yakin, suatu saat, kamu akan menemukan jalanmu. Kamu akan menjadi seorang yang hebat! Ayo Semangat !"
101.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 43 kali sebagai pantun santri
Baca
+Pustaka
Rasa

Rasa

Meski hanya makanan yang sederhana, namun moment kebersamaannya inilah yang membedakan pondok pesantren dengan sekolah pada umumnya. *********************************** /Allahu akbar, allahu akbar Adzan merdu terdengar dari masjid. Dalam sekejap, suasana menjadi hening. Baik santriwati maupun santriwan diam menyimak adzan yang berkumandang. Tak lupa, setiap larik adzan mereka jawab. Semuanya diam khusyu hingga adzan selesai. Setelah selesai adzan, para santriwati mulai ramai mengantri untuk berwudhu di kamar mandi. Begitupun dengan Kyra dan Ataya.
104.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 90 kali sebagai pantun santri
Baca
+Pustaka
Jejak di Balik Pesantren

Jejak di Balik Pesantren

Langit yang Retak Hari berikutnya, terjadi sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh siapa pun. Langit di atas pesantren merekah. Seperti kertas yang tersobek dari sudut atas. Dari celah itu, bukan cahaya yang keluar… melainkan kata-kata yang mengalir seperti debu. Santri-santri jatuh sakit. Beberapa mulai berbicara dalam kalimat-kalimat yang tidak dimengerti. Ada yang menyebut nama-nama yang tidak pernah mereka pelajari. Ada pula yang menggambar simbol pena dan rantai di dinding kamar mereka.
2.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 97 kali sebagai pantun santri
Baca
+Pustaka
Istri Yang Kau Anggap Mandul

Istri Yang Kau Anggap Mandul

Terutama Ibu, yang sejak dulu bercita-cita menginjakkan kaki di tanah suci. Apa sekalian daftar haji juga? Tapi antriannya panjang... Kulirik Sabrina yang tengah membalas email klien, berniat minta pendapatnya. Meski suka ngeselin, pemikirannya selalu cemerlang. “Sab!” “Ya, Mbak?” Ia menoleh. “Sudah balas emailnya?” “Sebentar... send! Oke, sudah. Ada apa Mbak? Butuh sesuatu?”
107.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 236 kali sebagai pantun santri
Baca
+Pustaka
Misi Bertemu Cinta

Misi Bertemu Cinta

"Semoga besok kita diberi semangat." "A....pesss...." *** Pagi hari menyambut kehadiran pesantren. Santri putra dan putri berebut antri mandi. "Aku duluan...aku..." Teriak mereka kesal karena sebentar lagi masuk salaf. Lekas antri mandi mereka masih antri lagi. Ya. Antri sarapan. Meski sarapan hanya nasi dan tempe, kalau tidak ya lauk pauknya telor mata sapi.
104.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 102 kali sebagai pantun santri
Baca
+Pustaka
Cahaya Cinta di Langit Pesantren (Cinta dalam Balutan Doa 2)

Cahaya Cinta di Langit Pesantren (Cinta dalam Balutan Doa 2)

Tidak jauh berbeda dengan santri putri, santri putra pun sering membicarakan tentang santri putri. Selepas salat Magrib berjamaah. Para santri putra dan putri berkumpul bersama di masjid utama untuk mengikuti acara rutin yang diadakan pesantren yaitu pembacaan nadhom kitab aqidatul awwam. Nadhom yang syairnya diciptakan oleh Syekh Ahmad Marzuki Al-Maliki. Pembacaan aqidatul awwam dijadikan kegiatan wajib untuk santri di pesantren yang di pangku Afnan selepas salat Magrib. Saat ini, kebetulan Athar berada di depan bersama kang ndalem lainnya. Tiba-tiba Gus Azril langsung menyerahkan mikrofon padanya.
1017.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 603 kali sebagai pantun santri
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status