Pustaka
Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
SEPERTI MENDUNG

SEPERTI MENDUNG

Bahkan, jikalau dituliskan ke dalam sebuah cerita pendek atau novel pun tak akan bisa tertuliskan. "Kek, nggak sarapan dulu?" tanya Nur yang sudah menyelesaikan pekerjaannya. Kakek Samad tersenyum dan menjawab, "Iya, nanti!" Wanita yang berambut sebahu itu pun langsung masuk ke dalam rumah lagi dengan tangan kanannya membawa ember. Kemudian, dia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk bersih-bersih dan sewaktu itu juga aroma masakan begitu tercium oleh hidungnya. Ya, itu masakan yang sedang dimasak oleh neneknya untuk sarapan bersama keluarga tercintanya. Seperti biasanya, Nek Iyam menggoreng gorengan dan tak lupa juga ada nasi kuning yang dia siapkan untuk keluarganya. Gorengan dan nasi k
3.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 98 kali sebagai sebening embun pagi
Baca
+Pustaka
Sebening Cinta Anne

Sebening Cinta Anne

Tapi mengingat kebiasaannya selalu bangun di pagi hari ketika azan subuh terdengar, mata itu akhirnya tidak bisa kembali terpejam. Dia beranjak ke kamar mandi, segera membersihkan diri, dia memilih untuk mengguyur kepala dan tubuhnya dengan air supaya hilang rasa capek dan juga akan membuatnya fresh. Hari ini dia harus sangat fit, untuk melanjutkan pencarian.
107.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 183 kali sebagai sebening embun pagi
Baca
+Pustaka
BUNGA ABADI

BUNGA ABADI

Come on to wake up 🎼 Hallo Lingga.. Come on to wake up Suara dari handphone Lingga. Bisakah aku menyebutnya keren atau kekanak - kanakan. "Hihi hihi..." aku sedikit tertawa kecil. Lingga menggeliat meregangkan badannya. Mengedipkan matanya satu kali, dua kali dan kemudian melihat ke arahku. "Selamat pagi!" ucapnya. "Pagi Pak!" jawabku.
108.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 294 kali sebagai sebening embun pagi
Baca
+Pustaka
Balas Dendam Sang Dokter Ahli Farmakologi

Balas Dendam Sang Dokter Ahli Farmakologi

Tapi ada sesuatu yang lebih kuat dari rasa sakit itu. Aroma. Aroma yang sangat harum dan menenangkan mengalir masuk ke hidungnya. Bukan dupa istana yang berat dan menyesakkan. Bukan parfum selir yang terlalu manis hingga membuat mual. Ini aroma yang berbeda. Lembut seperti embun pagi, hangat seperti sinar matahari pertama, dan ada sentuhan bunga yang belum mekar penuh. "Apakah aku sudah mati," bisiknya dengan suara yang sangat serak dan lemah. Tenggorokannya terasa seperti diisi pasir kering.
1018.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 416 kali sebagai sebening embun pagi
Baca
+Pustaka
Suami Pilihan Bunda

Suami Pilihan Bunda

Setelah mempersilahkan kedua sahabatnya masuk, Embun bergegas pergi ke kamar untuk memakai hijabnya. Aksa membawa mereka duduk diruang tamu. Setelah beberapa menit Embun kembali dengan membawa nampan yang berisikan empat gelas orange juice. "Maaf ya rumahnya berantakan." "Santai aja kali, kita paham kok namanya juga pengantin baru," ujar Gilang "Eh Embun jalan Lo kok agak lain ya, kalian habis belah duren ya," goda Zila.
103.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 123 kali sebagai sebening embun pagi
Baca
+Pustaka
Menjadi Istri Dadakan Presdir Tampan

Menjadi Istri Dadakan Presdir Tampan

"Ungh...." Embun membuka matanya yang terasa berat sebelum alarmnya kembali berbunyi di pagi hari. Tubuhnya terasa sedikit kaku karena jatuh tertidur di posisi yang sama semalaman tanpa banyak bergerak. Tubuhnya pun mulai menggigil kedinginan. Namun, saat ia berniat merenggangkan tubuhnya, Embun merasakan tangan kokoh melingkari perutnya, menahan gerakan Embun.
9.9445.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 15.2K kali sebagai sebening embun pagi
Baca
+Pustaka
Pengantin Kecil Tuan Xavier

Pengantin Kecil Tuan Xavier

Sengaja supaya wanginya tidak hilang. * * Pagi menjelang, kicau burung tampak menyambut datangnya pagi. Embun yang masih menempel di dedaunan menambah hangat dan sejuknya udara di pagi hari. Nandini tampak sudah bangun sedari tadi. Beruntung si bayi sudah mulai anteung. Tidak menangis ataupun rewel seperti kemarin. Sheinafia atau Nandini memanggilnya Sheina tampak masih tertidur di dalam balutan selimut tebal.
9.854.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.5K kali sebagai sebening embun pagi
Baca
+Pustaka
Terpaksa Menikahi

Terpaksa Menikahi

Pagi itu, daun- daun basah oleh embun, tetesannya jatuh dan membias tak tapak di tanah. Sinar kekuningan menghangatkan hawa sejuk dan menyibak kabut perlahan. Dalam ruang yang begitu rapi dan manly, netra Davi mengerjab, melihat sekeliling dengan pandangan yang sedikit berkabut, lalu terang oleh biasnya warna pagi itu.
5.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 225 kali sebagai sebening embun pagi
Baca
+Pustaka
Accidentally In Love

Accidentally In Love

Tetesan embun pagi membawa kesejukkan, membuat raga ingin menyerahkan diri semakin dalam bergelung di peraduan. Vanesha merasakan kehangatan tak biasa yang melingkupinya. Suasana yang begitu nyaman dan menyenangkan. Kicau burung serupa alarm tercipta dari alam membuat sepasang mata lentik itu untuk membuka. Bulu mata lentiknya ikut berkibar menari indah kala kelopak matanya mengerjap perlahan, menyesuaikan cahaya yang mulai merasuk ke dalam iris.
108.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 293 kali sebagai sebening embun pagi
Baca
+Pustaka
Menantu Sultan

Menantu Sultan

“Masa sih? Bau banget lho ini. Huekk!” Kututup hidungku, dan mengisyaratkan supaya buncis cepat dijauhkan. Ini sangat aneh, tubuhku seperti berbeda hari ini. Mulai dari lebih mellow dan sensitif, tadi pagi juga aku malas sekali bangun untuk mandi, ditambah lagi sekarang buncis pun tercium bau luar biasa. Tiba-tiba Risa mengeluarkan strawberry dari dalam lemari es dan menunjukkannya padaku,
1020.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 445 kali sebagai sebening embun pagi
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status