Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Jeritan yang Tak Terdengar

Jeritan yang Tak Terdengar

Suara yang penuh kejengkelan dan tidak sabar terdengar di seluruh ruang perawatan. Aku terdiam di sana, tidak tahu bagaimana merespons tatapan penuh simpati dari para guru. Hanya kelopak mataku yang bergetar sedikit, berusaha keras agar air mata kesedihan tidak jatuh.
8.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 252 kali sebagai silent words
Baca
+Pustaka
Jejak di Balik Pesantren

Jejak di Balik Pesantren

Tidak memiliki suara. Makhluk itu adalah Keheningan Pertama. Ia tidak menyerang. Ia hanya... ada. Kai mencoba berbicara. Tapi kata-katanya tak bisa keluar. Tidak ada tekanan udara untuk membawa suara. Maka Salma menulis satu kata di udara dengan jarinya: “Kenapa?” Keheningan Pertama menjawab tanpa kata, masuk langsung ke dalam pikiran mereka:
2.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 46 kali sebagai silent words
Baca
+Pustaka
Serenade Cinta Dibawah Bintang

Serenade Cinta Dibawah Bintang

Kadang cukup hadir. Luna meraih catatan kecilnya dari tas, lalu mencoret sesuatu di halaman terakhir. Ia menuliskan satu kalimat yang terasa seperti simpulan. “Senyap bukan berarti hilang. Kadang, itu hanya ruang agar hati bisa bicara.” Adrian melirik, lalu tersenyum. “Kamu selalu punya cara nulis yang bikin aku mikir lama.” Luna menoleh. “Dan kamu selalu punya cara main gitar yang bikin aku pengen nyanyi.”
101.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 33 kali sebagai silent words
Baca
+Pustaka
Terjebak Cinta Bos Sadis

Terjebak Cinta Bos Sadis

Langkah yang Tidak Terdengar Tidak ada suara pintu dibuka. Tidak ada langkah kaki yang jelas. Tapi— kami semua tahu. Seseorang sudah ada di dalam. Udara berubah. Tekanan terasa berbeda. Seperti ada sesuatu yang “mengisi” ruang kosong itu. Dan perlahan— dari kegelapan di ujung ruangan— sesuatu bergerak. Siluet. Tidak jelas.
10835 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 16 kali sebagai silent words
Baca
+Pustaka
Sisa Cahaya di Jalan Gelap

Sisa Cahaya di Jalan Gelap

Tidak ada kata-kata di antara mereka, hanya keheningan yang sarat makna. Galuh menunduk, mendekat. Ratri memejamkan mata, menahan perasaan yang bercampur antara takut dan pasrah. Malam itu berjalan begitu pelan, diisi oleh desau napas, bisikan samar, dan getar yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Napas Ratri terengah-engah. “Mas…” suaranya keluar begitu lirih, hampir seperti desahan yang bergetar di antara udara malam.
622 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 21 kali sebagai silent words
Baca
+Pustaka
SELIR HATI

SELIR HATI

“Jaga ucapanmu!” Ruangan itu mendadak sunyi. Gita tak membalas. Ia hanya menunduk lebih dalam, menahan air mata yang hampir jatuh. “Aku hanya ingin pamit.” David berdiri kaku. Ia melihat Gita, wajahnya yang kelelahan, matanya yang kehilangan cahaya, namun ia diam. Dan diam itu terasa seperti pisau. Dias menyeringai. “Kenapa kau hanya diam saja, David?” suaranya tajam. “Bukankah selirmu sedang berduka? Bukankah dia datang khusus menemuimu?”
103.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 140 kali sebagai silent words
Baca
+Pustaka
Maukah Kau Menemaniku Pergi Ke Dunia Dongeng?

Maukah Kau Menemaniku Pergi Ke Dunia Dongeng?

Ruangan menjadi hening sejenak, sunyi yang begitu pekat sehingga seolah-olah konsep suara itu sendiri menghilang dari dunia. Tapi, keheningan itu pecah oleh helaan napas panjang dan dalam dari Lola. Dia menopang kepalanya dengan kedua telapak tangan, siku bertumpu di meja. Lalu, dengan suara lirih yang hanya ditujukan untuk dirinya sendiri dan mungkin bayangan di cermin, dia bergumam:
459 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 13 kali sebagai silent words
Baca
+Pustaka
Saat Kau Pergi Tanpa Mengucap Kata Perpisahan

Saat Kau Pergi Tanpa Mengucap Kata Perpisahan

Hatiku sakit melihat kekecewaan di wajah mungilnya. Aku hendak bicara, tapi terdengar suara kecil memecah kesunyian. “Halo… Om.” Dimas memaksakan senyum, meski matanya memerah. Anak sekecil itu begitu dewasa, membuat hati ini merasa iba. “Ma, ayo keluar. Kita jangan ganggu Om.” Seluruh emosi di dadaku seketika terhenti. Aku membuka mulut hendak mengatakan sesuatu, tapi hanya mampu mengeluarkan satu kata.
9.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 293 kali sebagai silent words
Baca
+Pustaka
Setelah Bercerai, Aku Menjadi Dokter Sakti

Setelah Bercerai, Aku Menjadi Dokter Sakti

Tidak pernah ada. Dia menarik napas dalam, bersiap untuk memulai meditasi malam ini— KRRK. Suara itu kecil. Sangat kecil, tidak lebih keras dari suara retak biji kopi yang dipatahkan di antara jari. Tapi di ruangan yang sunyi seperti ini, di malam yang tidak ada suara lain selain kota yang sudah turun ke frekuensi malam di luar jendela, suara sekecil itu terdengar dengan sangat jelas.
1020.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 447 kali sebagai silent words
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1234568
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status