Ada satu gambar yang selalu terngiang di kepalaku ketika memikirkan dari mana inspirasi 'Satu Cinta Dua Hati' muncul: dua orang berdiri di persimpangan, memegang seutas benang yang sama namun menarik ke arah berbeda. Bukan hanya soal cinta segitiga klise, menurutku penulis sering memakai metafora itu untuk mengeksplorasi bagaimana satu pengalaman emosional bisa mengikat dua perspektif—bukan hanya dua orang. Mereka mengamati satu sumber kasih sayang yang sama, lalu merespons dengan kebutuhan dan ketakutan yang berbeda.
Dalam tulisanku sendiri aku sering terinspirasi dari lagu-lagu lama, percakapan singkat di warung kopi, dan kenangan masa kecil yang tiba-tiba muncul lagi. Penulis memakai potongan-potongan itu sebagai bahan bakar: dialog pendek yang terasa nyata, detail kecil seperti aroma hujan pada aspal, atau gestur tangan yang sepele tetapi bermakna. Semua itu dirangkai menjadi narasi di mana satu cinta menjadi katalis bagi dua hati yang tumbuh, bertumbukan, atau bahkan berjarak.
Aku suka ketika penulis tidak memberi jawaban mudah; mereka membiarkan pembaca menebak sisi siapa yang sebenarnya benar atau salah. Itu membuat cerita hidup dan menyisakan ruang untuk perasaan pembaca sendiri—sesuatu yang selalu membuat aku kembali membuka sebuah cerita lagi dan lagi.