Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Ujung Senja

Ujung Senja

Entahlah, semua terasa tak pasti. Aku menghabiskan waktu dengan membereskan pekerjaan rumah di lagi hari, saat matahari beranjak naik, aku berangkat ke Lolita. Menyibukkan diri demi mengusir gundah gulana. Seperti saat ini, siang yang terik dan Lolita sepi sekali. Mungkin efek bulan tua, atau karena ini hari Selasa sehingga orang sibuk dengan kegiatan masing-masing, tak memiliki waktu untuk sekadar ke salon. Aku dan Meri duduk di kursi sambil memegang gadget masing-masing. Mataku mengarah ke layar ponsel, tetapi pikiranku sudah berlari hingga ke Kutub Utara. Aku lelah dengan pikiranku sendiri, tetapi aku tak tahu bagaimana cara melepas semua pikiran itu.
108.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 227 kali sebagai cerpen kemarau karya andrea hirata
Baca
+Pustaka
Di Antara Dua Senja

Di Antara Dua Senja

Prinsif Izza. Awan menjadi gelap. Turun rahmat Allah lewat guyuran hujan yang membasahi bumi. Ciri khas bau tanah ini sangat Izza sukai. Kuliah sudah usai beberapa menit yang lalu. Lebih awal, karena dosen sedang ada rapat penting. Hanya memberikan beberapa penjelasan dan tugas, kemudian berpamitan dan bubar. Izza belum mengabari Pak Eman. Ia ingin menjernihkan fikiran dengan melihat hujan ditrotoar area tunggu Mahasiswa Garuda.
102.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 95 kali sebagai cerpen kemarau karya andrea hirata
Baca
+Pustaka
Cinta dan Impian

Cinta dan Impian

Debi memejamkan matanya dan melupakan masalah yang kini mengusiknya. Minggu datang menyapa. Debi yang terbebas dari pekerjaan dan kuliahnya memilih untuk duduk termenung di depan danau. Huh, sungguh segar rasanya. Apalagi saat ini hembusan angin membelai wajah cantiknya. Debi benar-benar menikmati hari liburnya yang tidak bisa ia rasakan setiap harinya. Debi perlahan membuka matanya. Indah, hamparan danau dan rindangnya pepohonan membuat Debi betah duduk di sana. Debi tersenyum senang, membuat wajahnya cantiknya semakin menawan.
104.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 144 kali sebagai cerpen kemarau karya andrea hirata
Baca
+Pustaka
Sebelum Hujan Membasahi

Sebelum Hujan Membasahi

Aku hanya menggaruk-nggaruk kepala meski sebenarnya tidak merasa gatal, serta cengingisan tidak karuan. "Gak salah memang, jauh-jauh pergi ke kota, belum ada 5 bulan, pulang-pulang udah bawa bidadari dari surga," ucap Pakdhe Hilal. Kulihat Della menahan tawa mendengar hal demikian. Sebenarnya aku juga aku agak sok mendengar pernyataan yang Della lontarkan. Aku hanya diam, dan tersenyum geli.
102.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 89 kali sebagai cerpen kemarau karya andrea hirata
Baca
+Pustaka
After The Holocaust (ATH)

After The Holocaust (ATH)

Suara-suara teriakan masih saja terdengar dari luar ruangan, tentu saja suara-suara tersebut membuat kami yang berada di dalam ruangan ini menjadi was-was. Danira melihat kearahku dan berbisik, “Cub, aku haus. Ayo kita cari minuman diluar.” Ajaknya sambil mendudukkan dirinya sendiri, menggeser pantatnya dan menarik lengan bajuku. Aku melihat ke sekitar, melihat teman-temanku yang masih sibuk dengan urusannya masing-masing. Aku tidak ingin mengganggu mereka dengan pertanyaan “Ada yang ingin minuman?”. Aku memalingkan wajahku kearah Danira dan berkata dengan berbisik, “Ayo kita pergi, tapi … emang kamu sudah bisa berjalan Dan?”
1.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 59 kali sebagai cerpen kemarau karya andrea hirata
Baca
+Pustaka
Dosen Dudaku

Dosen Dudaku

Sindir Aleta yang kemudian beranjak meninggalkan Andrea yang hanya bisa tergugu mendengar ucapan adik tengahnya. Devano tersentak pukul dua dini hari, saat hujan turun dengan derasnya. Suara petir serta kilat menggelegar seakan memecah isi bumi. Arjun pun tersentak bangun, lalu merengek resah. Dengan gerak cepat, Devano menggendong Arjun, lalu membawanya ke dapur untuk membuat susu. Setelah susu siap, Devano kembali masuk ke dalam kamar, dengan suara hujan deras mengiringi lelapnya Arjun setelah susu di dalam botol habis.
1019.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 719 kali sebagai cerpen kemarau karya andrea hirata
Baca
+Pustaka
SERPIHAN DENDAM MASA LALU

SERPIHAN DENDAM MASA LALU

Seru Arnita. "Aku Ingin tidur, tuan bisa keluar sekarang!" Ucapnya tanpa rasa takut sama sekali. Arnita sudah merasa dirinya mati semenjak semua kejahatannya terbongkar. Tidak ada jawaban sama sekali dalam. Beberapa menit. Arnita menutup mata, setelah itu tidak bisa lagi membukanya. "Tidurlah! Aku khawatir Arche tidak akan menerimamu disana."
104.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 158 kali sebagai cerpen kemarau karya andrea hirata
Baca
+Pustaka
TERJEBAK DALAM DRAMA PENDEKAR AWAN

TERJEBAK DALAM DRAMA PENDEKAR AWAN

Sepanjang malam pemuda itu berjaga, memberi ramuan obat, mengelap keringat sebesar jagung di dahi Arumi dan mengompresnya dengan air dingin. Menjelang pagi demamnya sudah mereda, igauan dan rengekannya pun sudah tak terdengar lagi, Zhan An bersyukur setelah merawat Arumi sehari semalam, gadis itu membaik. Arumi membuka mata, menatap sekeliling yang tampak berbeda. Langit-langit yang cembung melingkar dan dipenuhi tumbuhan merambat, Sepertinya dia berada di dalam goa yang terbuka, atau mungkin dia sedang di mulut goa? Pohon pohon besar tampak menutupi bagian depan dan samar terdengat suara deburan ombak, apa dia sedang berada di laut atau pantai?
102.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 50 kali sebagai cerpen kemarau karya andrea hirata
Baca
+Pustaka
Gila Karena Penyesalan

Gila Karena Penyesalan

Ketika membuka mata, aku masih tergeletak di lantai yang keras dan dingin. Semua orang mengelilingiku. Ayah, Ibu, Larry, dan Kimmy yang baru berusia lima tahun. Dengan mata panas, aku bertanya pelan, “Kalau aku mati di badai salju hari itu, apakah kalian akan merindukanku?” Tak ada empati di wajah mereka. Hanya kecewa dan jengkel yang tak mereka sembunyikan. “Ayah, aku sudah bilang ‘kan, dia cuma pura-pura pingsan!” Kimmy menunjukku sambil mengadu ke Larry.
14.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 290 kali sebagai cerpen kemarau karya andrea hirata
Baca
+Pustaka
Penantian Yang Tak Berujung

Penantian Yang Tak Berujung

“Kamu berharap dia menjadi burung yang terbang bebas di angkasa, tapi nggak seharusnya menganggapku sebagai ikan yang terkurung di dalam akuarium.” Aku menyeret koperku keluar dan meletakkan kunci di atas lemari. Terdengar suara dentuman keras di belakangku. Di bawah sinar matahari senja, bayangan pria yang berlutut itu memanjang sampai ke pintu. Pria yang biasanya sangat sombong itu, kini menangis sambil berlutut. Aku tidak menoleh dan terus melangkah keluar.
3.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 80 kali sebagai cerpen kemarau karya andrea hirata
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status