Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Kemilau Senja

Kemilau Senja

sahutku singkat sembari menarik napasku perlahan, pelukan erat ini mampu membuatku sulit bernapas lega. "Seharian tidak bertemu kamu, kenapa hal itu membuat aku rindu sama senyuman kamu ya, Dini," ucapnya lembut, ia membisikkan kata-kata itu tepat di telingaku. Rasanya merinding seluruh tubuhku, seakan seperti mimpi.
1010.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 238 kali sebagai puisi tentang senja
Baca
+Pustaka
Suatu Senja di Tanah Senja

Suatu Senja di Tanah Senja

“Ah, ya, senja. Keindahannya merupakan ketidakpedulian dalam kesabaran yang diam; sebuah ironi dari keapatisan. Tapi begitu, pasti ada alasan sesungguhnya, alasan di balik segala alasan. Alasan apa dan mengapa.” “Entahlah. Aku tidak begitu memikirkan hal romantis itu. Bagiku, senja adalah maha seni kehidupan: sebuah gerbang pembatas antara cahaya dengan kegelapan yang selalu membuka dan menutup di waktu yang sama.” “Bung benar. Senja adalah maha seninya kehidupan. Dan seni itu adalah cinta yang menyeluruh.” “Apa yang kau tahu tentang cinta?”
105.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 145 kali sebagai puisi tentang senja
Baca
+Pustaka
Senja yang Hilang di Malam Tanpa Suara

Senja yang Hilang di Malam Tanpa Suara

Selama kamu masih hidup, aku nggak akan ampuni kamu. [ Evelyn, kembalilah. Buatkan bubur untukku. ] ... Sebagian besar pesannya adalah ancaman. Namun, seiring berjalannya waktu, dia makin cemas karena aku tidak membalas pesannya. Saat senja tiba, dia berdiri di depan dinding kaca dan menatap hamparan matahari terbenam dan bergumam pada dirinya sendiri, "Jadi, mau gimanapun, aku akan selalu jadi pihak yang dicampakkan? Evelyn, meski aku ini seekor anjing, kamu juga nggak mungkin campakkan aku dua kali, 'kan?"
5.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 145 kali sebagai puisi tentang senja
Baca
+Pustaka
Tiga Belas Bulan Bersama

Tiga Belas Bulan Bersama

Matanya menatap langit senja yang mulai berubah keungu-unguan, begitu indah, seakan melukiskan perasaan yang tidak bisa dia ungkapkan. “Cantik sekali ...” gumamnya lirih. Haikal ikut mendongak, lalu berkata pelan, “Senja selalu mengingatkan bahwa semua hal ada akhirnya, bahkan keindahan.” Sania tertegun mendengar kalimat itu. Ada nada getir yang samar dalam suaranya. Apa mungkin ... dia menyimpan luka yang tidak pernah ditunjukkan pada siapa pun? Untuk sesaat, Sania ingin bertanya lebih jauh. Namun bibirnya kelu. Dia hanya bisa menunduk, memeluk lengannya sendiri untuk menghangatkan tubuh dari terpaan angin sore.
566 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 20 kali sebagai puisi tentang senja
Baca
+Pustaka
KULTIVATOR TITISAN IBLIS SURGAWI

KULTIVATOR TITISAN IBLIS SURGAWI

Angin berhembus pelan, Dedaunan Pohon-pohon Persik terlihat seperti menari seirama dengan Angin yang sedang menghembuskan nafasnya. Senja yang sempat menanfakkan diri atas keindahannya yang hanya sesaat itu, kini perlahan menghilang seakan-akan telah dimakan dan tertelan oleh kegelapan malam. Kegelapan yang mulai terlihat merayap pelan seperti bisikan lirih dari jiwa-jiwa yang berdosa.
102.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 88 kali sebagai puisi tentang senja
Baca
+Pustaka
Sisa Cahaya di Jalan Gelap

Sisa Cahaya di Jalan Gelap

Ia menatap langit-langit, berdoa dalam hati agar malam segera berakhir. “Tidurlah,” bisik Galuh pelan, namun nada suaranya lebih menyerupai perintah. Ketika pintu akhirnya tertutup kembali dan langkah Galuh menjauh, air mata Ratri pun mengalir. Ia tahu, bukan pukulan yang paling menakutkan, melainkan ketenangan yang palsu itu. Ketenangan yang bisa pecah kapan saja, seperti kaca yang siap retak dihembus angin kecil.
644 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 17 kali sebagai puisi tentang senja
Baca
+Pustaka
Ujung Senja

Ujung Senja

“Kemana perginya hati. Kemana hilangnya rasa. Engkau kan menghilang diri, Sayang, untuk insan yang kau puja. Kutakkan berkecil hati. Kutakkan rasa kecewa. Walaupun perih pilu di hati. Kau kuiring senyum mesra. Ingatlah, kau, duhai Jelita, hati ini untukmu saja. Dhai kasih, sanjungan kalbu, engkau pergi tanpa relaku. Hatiku kau curi kini, kau bawa pergi bersama. Kering kini taman sanubari, tiada lagi senyum indah.”
108.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 332 kali sebagai puisi tentang senja
Baca
+Pustaka
Kasih Abadi

Kasih Abadi

Kata Senja pelan yang dibalas Sedia dengan cengengesan. Petikan gitar pun mulai mengalun dan kasih mulai membacakan puisinya. Sore hari ini hujan kembali mengunjungi bumi Heran bahkan sudah jatuh berkali kali namun masih saja kembali Untuk sore ini ku harap hujan tinggal sedikit lebih lama Entah kenapa namun aku suka Yah tapi jangan terlalu lama, nanti penduduk bumi murka Oiya hujan kamu tahu tidak tuan diseberang sana?
106.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 221 kali sebagai puisi tentang senja
Baca
+Pustaka
Adiptara Family's

Adiptara Family's

Senja menyorot wajah rupawannya dengan luar biasa melalui kaca jendela transparan, cahaya kekuningan menyapu rupa itu dengan gradasi yang memukau. Gelap terangnya berada di titik yang pas membuat visualnya kian indah. Dan tidak ada yang bisa mengubah hal tersebut. Perpaduan senja dan dirinya menyatu dengan kuat, seakan apapun tidak dapat memisahkan. Kendati demikian, dia merupakan bagian dari istilah 'burung dalam sangkar emas'. Dan Rain sangat mengutuk istilah tersebut.
9.922.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 772 kali sebagai puisi tentang senja
Baca
+Pustaka
Godaan Memikat Lelaki Penguasa

Godaan Memikat Lelaki Penguasa

Senja, begitu mempesona, indah tidak terkira. Senja membawa sejuta rasa, kekaguman. Bak rasa cinta yang bertengger di hati, gelayar rasa ibarat bianglala, tidak mampu terlukiskan dalam kata, kekaguman senja. Ibarat memupuk duka lara, ketika indah senja tidak mampu terukir sempurna di langit, akan berganti malam, lalu menyisakan kenangan. Senja ibarat rasa, dimana hal indah itu terlihat menawan namun, tidak dapat kita miliki, hanya dapat kita nikmati sementara. Gelebah dalam atma, itulah senja, bagi secuil rasa yang masih tersisa, menyiksa, tanpa mampu kita genggam. Rinai melanda hati, mengepung, semakin lama semakin membludak, meruap timbul ke permukaan, itulah rindu. Sisa dari senja yang te
1046.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.8K kali sebagai puisi tentang senja
Tampilkan Ulasan (59)
Baca
+Pustaka
Haryanti Yulia
Ya ampun baca novel ini mulai awal agak kalem, pas masuk bab 4 aku jadi panas dingin😭 Bg Edzard yang sabar ya, Rere dan Kenzo udah saling cinta saling nganu ekhem², sampai berkedut² dia nahan 🤣 gak bisa ganggu gugat lagi pokokny. Jadi, Abang sama aku aja, aku akan terima Abang dengan lapang dada
NURUL LAILI MUFIDA
disini lakinya gak ada yg bagus, si ken yg gonta ganti wanita, si ed yg tdk bs menjaga kesucian pernikahan dengan meniduri ev, jdi gak ada yg pantas buat rere, kasihan rere gadis manis yg baik harus dapat suami gitu, mudah"an authornya berbaik hati mendatangkan jodoh yg baik serta setia buat rere...
Baca Semua Ulasan
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status