Suatu Senja di Tanah Senja
“Ah, ya, senja. Keindahannya merupakan ketidakpedulian dalam kesabaran yang diam; sebuah ironi dari keapatisan. Tapi begitu, pasti ada alasan sesungguhnya, alasan di balik segala alasan. Alasan apa dan mengapa.”
“Entahlah. Aku tidak begitu memikirkan hal romantis itu. Bagiku, senja adalah maha seni kehidupan: sebuah gerbang pembatas antara cahaya dengan kegelapan yang selalu membuka dan menutup di waktu yang sama.”
“Bung benar. Senja adalah maha seninya kehidupan. Dan seni itu adalah cinta yang menyeluruh.”
“Apa yang kau tahu tentang cinta?”
Hot Chapters